Blog ini berisi berbagai informasi dan opini yang bersumber dari kutipan berbagai media massa baik internet, TV, Radio, dan Surat Kabar. Konten kemungkinan berisi informasi tidak akurat atau salah, karena berdasarkan berita, rumor, gosip, kabar burung, selentingan, bisik-bisik dan pendapat para naraBlog di dunia maya. Semua isi yang di Posting di blog ini adalah hak cipta masing-masing pemilik.

Timpuk Anjing, Tukang Ojek Dibacok Hingga Tewas

Kamis, 01 Juli 2010

Hanya gara-gara menimpuk seekor anjing yang menggonggonginya, Mulyono (27) harus kehilangan nyawanya. Tukang ojek ini tewas dibacok oleh si pemilik anjing.

"Kasusnya ditangani Polsek Cakung," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Boy Rafli Amar, Kamis (1/7/2010).

Peristiwa itu terjadi pada Rabu, 30 Juni 2010 pukul 21.00 WIB. Saat itu, korban bersama penumpang sedang melintas di Kampung Baru RT 09 RW 08 Cakung Barat, Cakung, Jakarta Utara.

Mulyono dikagetkan dengan gonggongan anjing. Anjing itu juga mengejarnya.

Karena ketakutan, korban lalu berhenti dan menimpuk anjing tersebut dengan batu bata. Rupanya, aksi Mulyono ini diketahui oleh pemilik anjing, Jan Des Nainggolan (37)

Tidak terima anjingnya tersakiti, pelaku lalu membacok korban dengan menggunakan golok ke arah kepala, pipi dan punggung. Akibatnya korban mengalami luka sobek di pipi dan perut.

Korban lalu meninggal dunia dalam perjalanan ke RS Islam Sukapura, Jakarta Utara. Polisi menyita barang bukti golok dan batu bata.

Akibat perbuatan itu, Jan Des harus berurusan dengan polisi. Dia dijerat dengan pasal 351 KUHP tentang pengeroyokan yang menyebabkan seseorang meninggal dunia. (detik.com)

Five Minutes Merasa Dipermalukan Olga Syahputra

Penampilan Five Minutes di acara musik 'DahSyat' pada 30 Juni 2010 mengalami gangguan berkali-kali. Band asal Bandung itu pun merasa dipermalukan sang pembawa acara, Olga Syahputra.

Detikhot berbincang dengan Ricky, kibordis Five Minutes, via ponselnya, Kamis (1/7/2010). Ricky pun menjelaskan yang terjadi dalam acara tersebut.

Five Minutes bermain playback membawakan lagu 'Sumpah Mati' dalam acara live 'DahSyat' edisi ulang tahun Seputar Indonesia. Lagu baru diputar, ternyata audio di atas panggung mati tapi tidak dengan yang disiarkan. Aksi mereka pun dipotong dan diulangi.

Ketika tampil untuk kedua kalinya, di tengah acara tiga host 'DahSyat' yaitu Olga Syahputra, Astrid Tiar dan Raffi Ahmad naik ke pentas. Ricky pun merasa terganggu dengan aksi bercanda mereka di atas pentas. Sebelumnya mereka juga salah sebut nama band Five Minutes dengan The Titans.

"Bercanda mereka di luar batas. Kita musisi bukan pelawak," ujar Ricky.

Tidak cukup sampai di situ, ketika kelar menyanyikan 'Sumpah Mati', Olga memanggil Richie, sang vokalis, untuk menyanyikan lagu 'Happy Birthday' kepada Sindo. Baru juga Richie membuka suara, Olga "mengusir" sang vokalis dari pentas. Richie pun turun panggung dengan wajah kesal.

"Kita merasa dipermalukan sebagai anak band. Kita main musik. Itu udah keterlaluan. Awalnya tanggapan ini juga datang dari yang nonton, mereka memberi respon di Twitter juga Facebook," jelas Ricky.

Ricky membantah bermasalah dengan pihak RCTI selaku penayang acara. Five Minutes kesal dengan candaan Olga yang di luar batas menurut mereka.

"Selesai acara itu kita emosi banget. Pengen nangis rasanya. Kita kecewa banget. Harusnya host itu bantu promo bukan untuk menjatuhkan," tutur Ricky.

Untuk sementara, band yang telah mengantongi 8 album itu stop menerima tawaran pentas di 'DahSyat'. Hingga kini Five Minutes masih menunggu konfirmasi dari Olga. (detik.com)

Merindukan Figur Pak Hoegeng

Heboh berita rekening gemuk milik para jenderal polisi menjelang Hari Bhayangkara, kita menjadi rindu dengan sosok sederhana Pak Hoegeng, mantan Kapolri yang mendapat tempat di hati rakyat.

Semasa dinas tidak pernah memiliki mobil pribadi sehingga ketika pensiun ke mana-mana harus naik bus kota. Saingannya adalah Bung Hatta, seusai mundur dari kursi wakil presiden di rekeningnya cuma ada Rp 200, sementara uang pensiunnya tidak mencukupi untuk membayar langganan listrik rumah tinggalnya.


Sampai akhirnya Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin harus turun tangan membantu mengatasi tagihan Pajak Bumi dan Bangunan rumah kedua tokoh bangsa itu. Kedua figur panutan itu mungkin hanya dilahirkan sekali dan miskin pengikut.

Tidak bekerjanya sistem meritokrasi dalam pemerintahan dan perekrutan politik yang kotor hampir mustahil orang yang jujur dan taat asas memiliki karier yang baik, malah senantiasa tersisih oleh mereka yang sanggup membeli jabatan.

Dari jabatan yang pernah diembannya, di keimigrasian, kepolisian, pajak, serta Bea dan Cukai, sesungguhnya terbuka peluang bagi Pak Hoegeng untuk memperkaya diri. Coba saja tengok kekayaan mantan Dirjen Pajak di zaman Orde Baru atau pegawai seperti Gayus.

Hubungan patronase antara pejabat dan pengusaha dalam bisnis bukan saja menimbulkan distorsi ekonomi, tetapi juga melahirkan rezim korupsi yang sulit diatasi karena merupakan perkawinan kekuasaan politik dan uang.

Dari cuplikan peristiwa yang saya baca dari kliping koran lawas, Pak Hoegeng memang anomali dari keadaan itu. Ketika menjabat Kadit Reserse Kriminal Kepolisian Sumut, beliau sudah mengusir seorang pengusaha yang menjadi ketua penyambutan dirinya yang menghadiahinya sebuah mobil dan peralatan rumah dinas.

Kapolri Hoegeng juga pernah meminta istrinya untuk mengembalikan satu peti peralatan rumah tangga modern dari seorang pengusaha yang sedang berperkara dan menutup kios bunga milik istrinya karena khawatir menimbulkan konflik kepentingan.

Semasa menjadi Menteri Iyuran Negara, beliau menolak proposal dari seorang kontraktor untuk merenovasi rumah tinggalnya yang dinilainya tidak layak. Di tangan Pak Hoegeng, semua pelaku kejahatan yang ditanganinya tidak berkutik.

Sekadar contoh, pengusaha Robby Tjahyadi, perwira polisi dan militer yang terlibat dalam penyelundupan mobil mewah terbesar saat itu, adalah satu jaringan kejahatan yang dibabatnya. Penyelundupan pada awal tahun 1970-an telah menjadi masalah yang pelik karena melibatkan aparat berwenang. Namun, keberanian Pak Hoegeng membongkar mafia penyelundupan itulah yang diisukan menjadi alasan pemberhentiannya di tengah jalan dari jabatan Kapolri oleh Presiden Soeharto.

Kelebihan Pak Hoegeng, beliau tidak bersih untuk dirinya sendiri, tetapi juga menebarkan inspirasi dan motivasi untuk melakukan perubahan di lingkungan tempat kerjanya. Beliau memprakarsai pertemuan-pertemuan dan lobi-lobi antikorupsi secara reguler, dengan melibatkan para pejabat sipil dan militer serta tokoh masyarakat.

Sesungguhnya, Pak Hoegeng saat itu telah menerapkan strategi good governance, yang sejak awal 1990-an menjadi ideologi global untuk melawan korupsi, yaitu diperlukan adanya aksi bersama dari pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat warga (civil society).

Pola hidup yang bersahaja, hampir apa adanya, barangkali yang membebaskan tokoh seperti Pak Hoegeng tidak terjebak dalam penyakit hedonisme seperti pejabat dan politisi saat ini yang menyeret mereka dalam gaya hidup yang menghalalkan segala cara, termasuk menanggalkan harga diri.

Pascareformasi, polisi memiliki kekuasaan yang sangat besar, mulai dari urusan pelayanan administrasi kendaraan bermotor, izin keramaian, hingga bergesekan dengan urusan dunia usaha, maka wajar godaannya juga sangat besar.

Kita patut acungkan jempol dengan reformasi dalam pelayanan administrasi kendaraan bermotor yang sudah memenuhi kaidah-kaidah pelayanan umum yang baik. Terbongkarnya keterlibatan polisi dalam mafia pajak, dan kini muncul lagi masalah rekening milik perwira tinggi yang mencurigakan, padahal beberapa tahun lalu PPATK juga pernah melaporkan 15 perwira yang memiliki puluhan rekening serupa, mengindikasikan ada persoalan besar menyangkut integritas aparat kepolisian kita.

Tentu ini tantangan bagi pimpinan Polri apakah atas nama solidaritas korps ingin mengubur dalam-dalam masalah ini, atau mengundang PPATK dan KPK untuk mengusut kebenaran rekening itu guna memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap Polri. Presiden dan DPR barangkali harus menangkap gejala ini sebagai saat yang tepat untuk melakukan pembenahan kepemimpinan besar-besaran di tubuh Polri. (kompas.com)

Lia Trio Macan, Rekam Adegan Intim

Lia Trio Macan, Rekam Adegan Intim - Diam-diam, Lia Ladysta alias Lia Trio Macan mengaku pernah merekam adegan syurnya dengan sang kekasih.

Tapi adegan Lia tak heboh diberitakan media seperti kasus Ariel, Luna Maya dan Cut Tari. Sebab, akuna, rekamannya langsung dihapus.

“Pernah aku rekam adegan intim dengan pacar aku, tapi langsung aku hapus buru-buru. Soalnya aku takut kalau sampai tersebar,” beber Lia saat dijumpai di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Meski mengakui merekam, Lia tak pernah merekam hubungan intimnya hingga berkali-kali. Lia menilai, jika ada orang yang merekam video seks pribadinya berkali-kali, berarti ada kelainan.

“Aku sih masih mikir ke depan kalau harus merekam hubungan intim. Tapi kalau ada orang yang merekam berkali-kali pasti punya kelainan,” ucapnya.

Ogah mendapat musibah seperti Ariel Cs, bintang film Hantu Puncak Datang Bulan itu jadi mawas dari.

“Aku sadar menjadi public figure pasti berhubungan dengan banyak orang. Makanya aku nggak mau lagi dokumentasiin video yang macam-macam,” katanya.

Lia bukan cewek pertama yang mengaku pernah merekam adegan intimnya setelah kasus video mesum Ariel. Pekan lalu, Dewi Persik juga mengaku merekam adegan seks dengan eks suami, Saipul Jamil (Ipul).

“Pernah dulu (rekam adegan seks) waktu sama bang Ipul, tapi nggak sampai yang gimana gitu. Tapi sekarang sih sudah nggak ada. Sudah lama dihapus. Itu waktu aku masih anak-anak, nggak ngerti mas,” ujar Dewi, baru-baru ini. (rmblitz.com)

Berita Menarik

Entri Populer

Follow Us

 

counter stats
.